Artikel dan Berita Tentang Belitung

BelitungIsland.COM Article and News
Add to bookmarkAdded

Menyaksikan Permainan Beripat Berengong Berwujud Seni Bela Diri Khas Belitung

Asep Irwan Gunawan 11/03/2019

Sebuah permainan unik bernama Beripat Berengong bisa kita saksikan di Belitung. Permainan yang berwujud seni bela diri khas Belitung ini memang begitu memukau. Ini dikarenakan saat dipentaskan, maka Beripat Berengong akan mengundang banyak perhatian dan respon publik. Bagaimana tidak, dalam Beripat Berengong ini ada adu cambuk dengan rotan yang dilakukan oleh para pemainnya. Lalu seperti apakah permainan Beripat Berengong ini? Yuk ikuti ulasannya di bawah ini.

SEJARAH DAN RIWAYAT BERIPAT BERENGONG


www.belitungisland.com

Menelusuri riwayat seni atau permainan Beripat Berengong ini memang tidak bisa diketahui kapan waktu pastinya. Namun ada sebuah sumber lisan yang menyatakan bahwa Beripat Berengong ini mulai muncul pada masa Kerajaan Badau. Selain itu sumber lisan mengenai riwayat Beripat Berengong ini juga muncul dari cerita lokal masyarakat setempat. Menurut cerita lokal tersebut mengkisahkan bahwa Beripat Berengong muncul dari Desa Kelekak Gelanggang yang sekarang bernama Desa Mentigi. Di desa ini dulu ada seorang gadis cantik sehingga banyak kaum pria yang ingin melamarnya. Karena banyaknya pria yang ingin meminang sang gadis, maka kemudian orangtua si gadis menyerahkan keputusan pada para peminang. Dalam kesepakatan para peminang kemudian disepakati untuk menggelar adu bela diri yang kemudian dikenal dengan Beripat Beregong. Dalam adu bela diri yang menggunakan rotan tersebut ditetapkan aturan bahwa pemukulan diharuskan mengenai bagian punggung lawan. Dari banyaknya pukulan rotan yang mengenai punggung lawan itulah kemudian sang pria ditetapkan sebagai pemenang dan bisa mempersunting sang gadis. Namun dalam riwayatnya diceritakan bahwa tidak ada orang yang menjadi pemenang karena semua pemain yang mengikuti adu bela diri ini sama-sama memiliki ilmu yang tinggi.

KONSEP BERIPAT BERENGONG


Tarian Belitung

Dari asal usul katanya, Beripat Berengong ini berasal dari dua istilah yaitu Beripat (Ripat) dan Berengong. Beripat (Ripat) sendiri bermakna memukul atau mencambuk dengan alat, sementara Berengong (Gong) memiliki merupakan alat musik yang dipakai untuk mengiringi permainan. Secara umum, Beripat Berengong sendiri adalah seni bela diri khas Belitung yang memang digelar dengan iringan musik. Dalam permainan atau seni bela diri ini memang ada alat berupa rotan yang digunakan untuk saling menyerang atau saling mencambuk antar pemainnya. Dengan digelar di atas sebuah panggung, maka pertunjukkan Beripat Berengong ini akan selalu mendapatkan perhatian dari warga dan juga wisatawan. MAKNA BERIPAT BERENGONG Meskipun terlihat ada adegan baku pukul atau cambuk namun dalam Beripat Berengong tersebut ada makna lain yang bisa didapati. Bahkan makna dari Beripat Berengong ini berlawanan dengan hal sebenarnya yang disaksikan oleh mata. Maksudnya, bila melihat secara langsung Beripat Berengong maka yang terlintas adalah perkelahian dan dendam. Tapi ternyata Beripat Berengong ini memiliki makna yang lain yaitu mempererat hubungan antar kampung.

PERSIAPAN MELAKUKAN BERIPAT BERENGONG


Kegiatan Budaya Belitung

Untuk menggelar Beripat Berengong ini memang tidaklah mudah. Pasalnya dibutuhkan sebuah panggung tempat pertandingan yang disebut dengan balai peregongan. Balai peregongan ini memang bukan panggung biasa. Pasalnya Balai Peregongan ini adalah panggung yang terbilang tinggi mencapai 6-7 meter. Tidak hanya harus menyediakan panggung yang tinggi, sebab ketika panggung sudah jadi, muncul perjuangan besar lain yaitu mengangkat perlengkapan musik ke atas panggung yang terbilang berat. Beberapa perlengkapan musik yang dibutuhkan untuk menggelar Beripat Berengong antara lain gong, gendang, kelinang, serunai, gamelan dan tawak-tawak. Untuk menaikkan beberapa alat musik ini sendiri tidak boleh sembarangan. Sebab untuk mengangkat dan menaikkannya, dibutuhkan izin dan arahan dari ketua adat atau ahli waris pemilik gong.

Tidak lupa juga sebuah rotan dengan panjang 1,30 cm juga perlu disiapkan untuk menggelar Beripat Berengong. Bicara mengenai rotan yang digunakan sebagai senjata dalam bela diri Beripat Berengong ini, maka ada tata cara yang harus dilakukan sebelum digunakan dalam acara. Jadi sebelum digunakan, rotan ini harus digosok dengan air yang telah diberi mantra atau jampi-jampi. Nah dari sinilah kemudian rotan menjadi ajaib karena jadi tidak mempan atau tidak menyakiti pemain yang terkena pukulan. Tapi setelah pemain pulang ke rumah maka rasa sakit akibat pukulan biasanya akan terasa.


Menari di Pantai Belitung

SEBELUM PERMAINAN DIMULAI

Setelah semua persiapan sudah selesai dirampungkan maka akan dihadirkan orang-orang yang berada di dalam panggung. Selain pemain, orang-orang di panggung yang perlu dihadirkan adalah para para petinggi adat, pencatat jumlah pukulan dan juga juru pisah. Sementara itu para pemain yang akan bertanding akan dipanggil oleh tetua adat untuk kemudian ditanya mengenai asal usul rumahnya. Hal ini dilakukan oleh tetua adat supaya mengantisipasi tidak terjadi dendam antar kampung. Untuk mengantisipasi dendam antar kampung juga diberlakukan aturan bahwa para pria pemain Beripat Berengong yang bertanding dilarang berasal dari kampung yang sejalan. Setelah semua aturan dan segalanya siap maka permainan Beripat Berengong pun bisa dimulai.


Budaya Belitung

PERMAINAN BERIPAT BERENGONG

Untuk memainkan Beripat Berengong ini biasanya dilakukan pada malam hari. Beripat Berengong sendiri diawali dengan dukun yang menyuruh para pemain membuka baju. Setelah itu pemain juga diharuskan memakai ikat kepala dari kain. Selain memakai ikat kepala, pemain juga diharuskan menggunakan kain yang diikat pada kaki sebatas lutut dan juga tangan kirinya. Fungsi dari kebat yang diikat pada kaki dan tangan kiri ini adalah untuk menangkis pukulan dari lawan. Seperti pada permainan lainnya, Berikat Berengong juga memiliki aturan yaitu tidak boleh menyerang bagian kepala dan juga bagian pinggang ke bawah. Selain itu pemain juga dilarang melakukan penyerangan dengan cara mengecoh terlebih dahulu. Penilaian sendiri baru dihitung bila ada pukulan rotan yang hanya mengenai punggung lawan. Nah pemenang dari permainan bela diri Berikat Berengong sendiri ditentukan pada banyaknya bagian punggung lawan yang terkena pukulan atau sabetan. Semakin banyak sabetan atau pukulan yang mengenai punggung lawan maka dialah yang berhak menjadi pemenangnya.

PERKEMBANGAN BERIPAT BERENGONG

Beripat Berengong sendiri ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Seperti sekarang ini, Beripat Berengong sudah tidak harus lagi dilakukan di panggung balai peregongan. Ini karena banyaknya kesulitan dan kerumitan yang muncul dari penggunaan balai peregongan. Bahkan di beberapa daerah, Beripat Berengong ini sudah meluas kegiatannya dan bukan hanya menyuguhkan aksi bela diri. Namun seni Beripat Berengong di beberapa tempat tersebut saat ini telah menjadi kegiatan masyarakat umum seperti syukuran, selamatan kampung atau maras taun. Namun meski demikian Anda tak perlu khawatir untuk bisa menyaksikan seni permainan Beripat Berengong yang asli. Sebab beberapa daerah di Belitung masih ada yang menggelar Beripat Berengong dengan seni bela diri dan permainan yang aslinya. Hal lain yang mengalami perubahan dari seni permainan Beripat Berengong adalah waktu penyelenggaraan. Sebab pada awalnya Beripat Berengong ini digelar dalam waktu satu minggu penuh. Tapi sekarang seiring perkembangan zaman, waktu penyelenggaraan Beripat Berengong dibatasi dalam waktu yang lebih singkat.


Comments


Tulis komentar artikel ini